Monday, February 11, 2013

love

kalo kamu bukan Didik Krisna maka jangan buka post ini. tapi kalo hasrat kepo kamu tidak terbendung lagi, ya sudahlah silahkan menikmati potongan kisah saya.


kepikiran mau putus aja.
bukan gw gak cinta. bukan gw gak sayang. apalagi orang ketiga.

semata karena saya jenuh dg posisi saya yang terpojok,

di keluarga, saya cucu perempuan sendirian. anak perempuan satu-satunya. keluarga saya over protektif. saya tidak punya jam malam. boleh keluar malam, tapi occasionally kalo ada sesuatu yang memang perlu, bukan sekedar main, jalan sama kawan. keluar malem saja saya gak bisa. apalagi ke 'tamasya' ke ujung pulau mengunjungi pacar. thats a big no. ibu bapak saya terbilang kolot. apa yang ada di pikiran mereka saat saya bilang saya mau ke ujung pulau, bermalam disana. untuk apa? ngunjungi pacar. bisa-bisa parang bapak saya langsung melayang nebas ni leher.

saat seperti ini, si pacar lagi demam. dia updatelah socmed nya bahwa doi kesepian. pengen ada yg ngerawat. pengen di temeni. apalagi pas lg sakit begini. ya ya saya  paham betul. saya mengerti sepenuhnya. beberapa kali, kamu nanya "kapan sayang main ke sini?" , "saya pengen kamu ada di sini"

saya tau kalau inilah keterbatasan saya. saya tidak seperti pacar temen-temen kamu yang modern itu. saya bukan seorang sheila. yang bisa ngunjungin pacarnya lintas pulau. bukan juga seorang indi yang bisa dibawa pergi liburan romantis berdua. saya anak kampung, dengan segala keterbatasan mindset kolot.  saya perempuan kampung. yang tentu saja kampungan.

kamu bilang it is OK. itu semua gapapa. kamu mengerti keterbatasan saya yang menjemukan ini. tapi lantas kenapa kamu tetap saya 'berkicau' ttg betapa kesepiannya kamu. betapa kamu ingin ditemani. saya yang sensitif ini nangkapnya beda. betapa kamu menderita sakit sendirian = betapa saya adalah pacar gak guna.

if it is OK to you, please stop complaining! pikirkan perasaan saya. saya bukan manusia tanpa hati yang gak ngerasa tersindir. saya perempuan dengan segala sensitivitas perempuan. maksud saya jelas, kita pacaran udah lama. kamu sudah ngerti bagaimana saya, dan dengan pola seperti apa saya di besarkan.

saya bukan tipe pacar yang jumawa,senang melihat pacarnya menderita.  dengan keluh kesah kamu yang sangat menderita itu jangan pikir gak berdampak apa-apa ke saya. saya sedih. dan ketika saya sadar bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa, sedih saya kian berlipat.

saya cuma bisa bantu ngingetin jam minum obat. makan. istirahat. ya segitu gitu saja. saya tau itu bahkan sebetulnya ga berarti apa-apa. saya gak bisa bantu kamu. saya gak bisa ringankan beban kamu disana.

sekarang saya tawarkan ke kamu, bagaimana kalau kita putus saja. jadi kamu bisa cari perempuan lain disana yang bisa temenin kamu, rawat kamu, atau seenggaknya perempuan lain yang lebih modern seperti  sheila atau indi. deal?

kamu masih cinta sama saya? sama, saya juga cinta kamu. cinta sekali.
maka ubahla pola yang suka berkeluh. this is life. inilah pilihan yang kita pilih. merantau memang sulit. tapi itu yang harus di hadapi, berkeluh tidak akan meringankan beban bukan? berkeluh tidak akan membuat kamu menjadi tidak kesepian.

P.S. maaf tidak bisa secepatnya menjadi halal untuk kamu, beri aku waktu untuk kejar mimpi-mimpiku. 2-3 tahun lagi, setelah itu semua sisa umurku aku berikan untuk kamu.


No comments:

Post a Comment