Sunday, November 13, 2011

that is it., why I didn't deserve.

"God, grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference."
Setelah memahami isi sumpah profesi yang bikin saya merinding sangat, dan bikin saya kepingin menagis karena malu.. Saya berubah. Saya bisa bangkit lagi sekarang.

Saya berpikir tentang SPMB yang pernah saya lalui dua kali, yang mengantarkan saya pada dua kali kegagalan. dulu saya drop dan kuliah ogah ogahan. saya dibanjiri dengki iri dan pertanyaan pertanyaan seputar betapa tidak adilnya Tuhan kepada saya. Tapi akhirnya setelah hampir empat tahun saya baru benar-benar bisa mengerti alasan kenapa Tuhan tidak memberi saya kesempatan menjadi seorang dokter, even though it was my dream job, even though i did my best in order to reach it. Masalahnya bukan karena kurang belajar, juga bukan karena otak saya yang ga mampu, saya yakin saya bisa kok. Masalahnya cuma satu... dan fatal... yang salah : niat saya.

Seharusnya saya tahu kalau menjadi seorang dokter bukan hanya wujud eksistensi gengsi yang tinggi, tingkat kemapanan, dan kecerdasan. Menjadi seorang dokter berarti menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk urusan kemanusiaan, mengabdikan waktu tenaga dan hidup juga untuk urusan kemanusiaan. Menjadi dokter bukan hanya urusan pride, kebanggaan dan harga diri. Menjadi dokter berarti mengikatkan diri pada pengabdian yang tidak bisa ditawar tawar. Sebuah pengabdian suci dengan harga mati.

Sedangkan niat saya? memalukan. I realize. That is it, why I didn't deserve.